jasa edit foto murah

Panduan Penulisan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) Untuk Guru

Modifimu.com. Hari yang ceria, masih bersama mimin cantik Kak , yang akan memberikan informasi menarik untuk sahabatku kali ini seputar dengan kupasan artikel terbaru yaitu Panduan Penulisan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) Untuk Guru. Tapi tunggu dulu barang kali ini yang anda cari juga beberapa waktu sebelumnya saya sempat menyajikan beberapa artikel yang saya kemas rapi dibawah diantaranya:
    Artikel Lainnya:
    Oke sob, langsung saja menuju artikel yang akan kita bahas kali ini,


    Panduan Penulisan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) Untuk Guru

    Advertisement

    Kita sedang berada di era baru, era industrialisasi digital dimana kegiatan industri terintegrasi melalui penggunaan teknologi wireless dan big data secara massif. Saat ini berbagai macam kebutuhan manusia telah banyak menerapkan dukungan internet dan dunia digital sebagai wahana interaksi dan transaksi. Sharing economy, e-education, e- government, cloud collaborative, marketplace, smart city adalah wajah dunia saat ini yang semakin kompleks, begitu cepat berubah, dan menantang sekaligus mengancam. Laporan hasil kajian McKinsey (2019) terhadap dunia kerja Indonesia menunjukkan bahwa lebih banyak pekerjaan baru yang tercipta pada tahun 2030 daripada pekerjaan yang hilang karena otomasi; antara 27-46 juta lapangan kerja baru akan dapat diciptakan dan 10 juta diantaranya merupakan jenis pekerjaan yang belum pernah ada sebelumnya. Keterampilan dalam teknologi, sosial emosional dan berpikir tingkat tinggi seperi kreativitas dan penyelesaian masalah merupakan keterampilan yang diperlukan pada era otomasi ini. Peluang dan ancaman pada era ini perlu disikapi dengan tepat oleh dunia pendidikan.

    Dunia pendidikan perlu menyiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan abad 21 yang semakin kompleks. Pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan dan proses berpikir sederhana seperti yang dikenal selama ini, tetapi juga perlu menyiapkan mereka untuk memiliki dan mampu mengembangkan kecakapan esensial abad ini. Partnership for 21st Century Skills berkolaborasi menyusun kerangka pembelajaran abad 21 agar para pelajar sukses di abad digital ini. Kerangka tersebut, seperti ditunjukkan pada Gambar 1, sering dijadikan rujukan tidak hanya di Amerika tetapi juga di negara lain.
     
    Gambar 1. Framework for 21st
    Century Learning(Sumber: Partnership for 21stCentury Skills)

    Kerangka tersebut mendeskripsikan perpaduan antara keterampilan, pengetahuan, literasi, dan keahlian yang harus dikuasai peserta didik agar sukses dalam berkarir dan menjalani kehidupan di abad 21 ini. Setiap skil abad 21 tetap memerlukan pengetahuan, pemahaman, penguasaan, dan pengembangan mata pelajaran inti, yakni bahasa, seni, matematika, sain, ekonomi, geografi, sejarah, dan kewarganegaraan. Jadi, peserta didik tidak hanya dituntut mampu berpikir kritis dan berkomunikasi efektif namun tetap harus memiliki dasar pengetahuan dan pemahaman terhadap mata pelajaran inti dengan benar.Dalam konteks pembelajaran dan penilaian abad 21, peserta didik harus mempelajari dan menguasai esensial keterampilan antara lain berpikir kritis dan pemecahan masalah; berpikir kreatif dan inovatif; dan berkolaborasi dan berkomunikasi efektif.berpikir kritis dan pemecahan masalah; dan berpikir kreatif dan inovatif merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Keterampilan berpikir tingkat tinggi perlu dimiliki oleh setiap peserta didik agar dapat berfungsi optimal sebagai individu dan anggota masyarakat yang kritis, mandiri, dan produktif. Peserta didik yang memiliki keterampilan tingkat tinggi lebih terbuka pada adanya berbagai perbedaan atau keragaman, tidak mudah menerima suatu informasi tanpa bukti atau alasan yang berdasar, tidak mudah terpengaruh atau terbawa arus, mereka mandiri dalam berpikir dan bertindak, dapat membedakan hal yang penting dan prioritas sehingga dapat menghasilkan karya nyata yang bermanfaat. Padaakhirnyaketerampilan berpikir tingkat tinggi diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Pembelajaran dan penilaian keterampilan berpikir tingkat tinggi pada hakikatnya merupakanpembelajaran dan penilaian bermakna bukan sekadar menghapal karena pembelajaran dan penilaian ini memungkinkan peserta didik untuk dapat : 1) mentransfer, menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimilikinya ke konteks yang baru atau cara yang lebih kompleks; 2) berpikir kritis, menerapkan pertimbangan yang bijaksana (wise judgement) atau menghasilkan kritik yang berdasar (reasoned critique); 3) menyelesaikan masalah, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dalam kehidupannya. Pembelajaran dan penilaian dengan berbagai teknik dan instrumen yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, menyelesaikan masalah diyakini dapat meningkatkan dan mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Buku ini fokus pada pengembangan instumen penilaian berpikir tingkat tinggi, khususnya dalam bentuk penilaian tertulis.
     


    A.         Pengertian Berpikir Tingkat Tinggi



    Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang terjadi ketika seseorang dihadapkan pada situasi atau suatu permasalahan yang harus diselesaikan. Kegiatan mental atau kegiatan berpikir yang terjadi dapat berbeda-beda tingkatannya tergantung pada situasi atau kompleksitas masalah yang dihadapi. Suatu masalah mungkin dapat diselesaikan dengan tingkat berpikir yang lebih rendah seperti mengingat dan memahami. Masalah lain yang lebih kompleks memerlukan keterampilan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis dan mengevaluasi.
    Proses berpikir dan klasifikasinya telah banyak dibahas para ahli. Klasifikasi atau taksonomi yang paling dikenal dalam dunia pendidikan ialah Taksonomi Bloom. Taksonomi tersebut digagas oleh Benyamin Bloom dan dipublikasikan bersama koleganya pada tahun 1956. Setelah 40 tahun, Taksonomi tersebut direvisi, terutama oleh Lorin Anderson dan David Krathwol dan dipublikasi tahun 2001.  Dalam Taksonomi Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan 6 level proses berpikir, yaitu mengingat (remembering),   memahami   (understanding),   menerapkan   (applying),   menganalisis
    (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mengkreasi (creating).


    Mengkreasi(creating)
    Mengevaluasi(evaluating)
    Menganalisis(analyzing)
    Menerapkan(applying)
    Memahami(understanding)
    Mengingat(remembering)



    Susan Brookhart mengkategorikan tiga proses kognitif paling atas pada taksonomi Bloom, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi sebagai proses berpikir tingkat tinggi. Susan menjelaskan tiga proses kognitif tersebut sebagai berikut.


    Kategori proses
    kognitif berpikir tingkat tinggi


    Proses kognitif  dan contoh








    Menganalisis
    Mengurai informasi ke dalam bagian-bagian dan menentukan atau menjelaskan bagaimana bagian-bagian tersebut terkait.
    Soal mengukur analisis ketika peserta harus menyimpulkan berdasarkan analisis dari bagian-bagian teks atau stimulus
    Contoh: menemukan atau menentukan ide-ide pokok, argumen, asumsi dari suatu teks yang tidak disampaikan secara eksplisit; menentukan atau menyusun bukti yang mendukung dan tidak mendukung untuk suatu deskripsi kasus; menentukan pandangan penulis esai dari sudut pandang tertentu







    Mengevaluasi
    Mengevaluasi sesuai dengan tujuan; membuat pertimbangan/
    judgement berdasarkan standar atau kriteria.

    Contoh: menentukan metode yang memberikan solusi yang paling tepat untuk masalah yang disajikan; menentukan ketepatan kesimpulan peneliti berdasar data yang disajikan.






    Mengkreasi
    Menyatukan unsur-unsur untuk membentuk suatu kesatuan; menata ulang unsur-unsur untuk membentuk pola atau stuktur yang baru.
    Contoh: merencanakan karya tulis ilmiah berdasarkan topik yang diberikan; menyusun desain eksperimen; menyusun hipotesis untuk menerangkan fenomena yang tampak; menyusun akhir cerita





    Selain menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi dari Taxonomi Bloom tersebut, dikenal juga istilah lain untuk menunjukkan proses   berpikir tingkat tinggi seperti judgement dan berpikir kritis,  menyelesaikan masalah,  kreativitas dan berpikir kreatif. Dalam tataran operasional, proses berpikir tersebut seringkali overlap.  Sebagai contoh ketika mengkreasi, berpikir kritis dan berpikir kreatif juga terlibat. Demikian pula ketika menyelesaikan masalah, analisis, evaluasi, berpikir kreatif juga dapat terlibat. Sebagian istilah yang berbeda juga bermakna hampir sama misalnya antara judgment dan mengevaluasi.
    Seperti telah dikemukakan sebelumnya, berpikir tingkat tinggi dapat ditunjukkan ketika individu menerapkan  pengetahuan dan keterampilan ke konteks yang baru atau cara yang lebih kompleks (transfer). Transfer dapat dilakukan karena adanya retensi, yaitu menyimpan atau mengingat apa yang telah dipelajari. Hal ini menunjukkan berpikir tingkat tinggi tidak dapat lepas dari berpikir tingkat rendah. Berpikir tingkat rendah merupakan landasan untuk berpikir tingkat tinggi.
    Dari uraian di atas dapat  dipahami bahwa cakupan berpikir tingkat tinggi cukup luas dan level proses berpikir dapat dikategorikan sampai 6 level seperti Taxonomy

    Bloom. Untuk kepentingan penilaian tingkat nasional, dengan prinsip bermanfaat dan sederhana, Pusat Penilaian Pendidikan mengkategorikan proses berpikir menjadi 3 level kognitif, yakni :
    a.   Level 1 (Pengetahuan dan Pemahaman)
    mengukur kemampuan untuk mengingat dan memahami pengetahuan yang telah dipelajari.
    b.   Level 2 (Aplikasi)
    mengukur  kemampuan  menerapkan  pengetahuan  dalam  konteks  atau  situasi yang familier atau rutin.
    c.   Level 3 (Penalaran)
    mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang tidak hanya sekedar mengingat dan memahami. Proses berpikir yang termasuk dalam level ini seperti menganalisis, mengevaluasi, mengkreasi, berpikir logis, berpikir kritis, berpikir kreatif, menyelesaikan masalah pada konteks baru atau non rutin.



    B.        Bagaimana Menilai Berpikir Tingkat Tinggi?



    Seperti halnya dalam penyusunan instrumen penilaian secara umum, penyusunan penilaian keterampilan berpikir tingkat tinggi juga melibatkan tiga hal prinsip, yaitu: 1) Menentukan secara jelas apa yang akan dinilai; 2) Menyusun tugas atau soal tes; dan 3) Menentukan kriteria penguasaan hal yang dinilai.
    Dalam penyusunan penilaian berpikir tingkat tinggi, terdapat  tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu: 1) menggunakan stimulus ; 2) menggunakan konteks yang baru; dan
    3) membedakan antara tingkat kesulitan dan kompleksitas proses berpikir.


    1.    Prinsip Penyusunan Instrumen Penilaian Secara Umum


    Menentukan secara jelas apa yang akan dinilai
    Dalam menyusun instrumen, tidak cukup hanya menentukan topik atau materi yang akan dinilai, perlu juga ditentukan lebih spesifik proses berpikir apa yang akan dinilai untuk materi tertentu.

    Sebagai contoh   untuk IPA, kemampuan untuk   mengelompokkan tumbuhan berdasarkan ciri-ciri hasil pengamatan/ciri-ciri yang disajikan   berbeda dengan kemampuan untuk menentukan ciri-ciri  tumbuhan tertentu. Pada hal yang kedua proses berpikir yang dituntut hanya mengingat ciri dari suatu tumbuhan, sedangkan pada hal yang pertama, mengingat ciri-ciri dari tumbuhan tertentu saja tidak cukup, peserta didik perlu mengidentifikasi karakteristik pada beberapa tumbuhan yang disajikan. Demikian pula pada bahasa, misalnya untuk materi puisi, perlu ditentukan apakah yang dinilai kemampuan menginterpretasi puisi ataukah menulis puisi.

    Menyusun tugas atau soal tes yang harus dikerjakan
    Tugas yang dirancang hendaknya sejalan dengan materi dan proses berpikir yang akan dinilai. Sebagai contoh, jika yang akan dinilai adalah kemampuan menginterpretasi puisi, namun tugas yang diberikan meminta peserta didik mengidentifikasi rima atau menulis puisi maka tugas tersebut   tidak sesuai meskipun tugas menulis puisi menuntut proses berpikir tingkat tinggi.

    Menentukan  kriteria  penguasaan  hal  yang  dinilai  dari  hasil  pelaksanan tugas atau tes.

    Setelah menentukan tugas, pendidik perlu menentukan bukti apa yang akan digunakan untuk menunjukkan peserta didik telah mencapai atau belum mencapai target.    Dalam penilaian formatif, pendidik perlu menginterpretasi hasil kerja peserta didik dan memberikan umpan balik sejauh mana capaiannya, apa yang harus dilakukan. Dalam penilaian sumatif untuk pemberian nilai, pendidik perlu menyusun pedoman untuk menskor hasi kerja peserta didik,   sehingga capaian skor memberi informasi yang bermakna.


    2. Prinsip  Penyusunan  Instrumen  Penilaian  Keterampilan  Berpikir  Tingkat
    Tinggi


    Menggunakan stimulus
    Stimulus dapat berupa teks, gambar, skenario, tabel, grafik, wacana, dialog, video, atau masalah. Stimulus berfungsi sebagai media bagi peserta didik untuk berpikir. Tanpa adanya stimulus, soal cenderung menanyakan atau menilai ingatan.

    Stimulus yang digunakan hendaknya yang positif, dalam arti tidak menimbulkan efek negatif misalnya menyudutkan kelompok tertentu, atau memberikan penguatan untuk perilaku negatif. Bila memungkinkan stimulus yang digunakan hendaknya edukatif, memberi wawasan, pesan moral dan inspirasi kepada peserta.   Sebagai contoh, teks atau grafik yang menunjukkan besarnya jumlah makanan tersisa dari suatu restoran atau dari suatu pesta dapat memberikan wawasan dan pesan kepada peserta tentang penghamburan makanan yang seharusnya tidak terjadi.

    Menggunakan konteks yang baru
    Konteks yang baru yang dimaksud adalah konteks soal secara keseluruhan, dapat berupa   materi atau rumusan soal. Agar dapat   berfungsi sebagai alat yang mengukur berpikir tingkat tinggi, soal hendaknya tidak dapat dijawab hanya dengan  mengandalkan  ingatan.  Bila suatu konteks soal sudah familiar karena sudah dibahas di kelas atau merupakan pengetahuan umum, dalam menjawab peserta didik tidak lagi berpikir tetapi hanya mengingat.

    Sebagai contoh, soal yang meminta peserta didik untuk mengkritisi karya penulis A berdasarkan aspek atau sudut pandang tertentu merupakan soal yang tampaknya mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi. Namun karena di kelas atau di buku pelajaran hal tersebut telah kerap dibahas maka sebenarnya untuk dapat menjawab soal tersebut, peserta didik tidak perlu berpikir kritis, melainkan cukup mengingat.  Soal dengan konteks yang baru dan belum pernah dibahas sebelumnya, menuntut peserta didik tidak hanya menjawab dengan mengingat tetapi menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi karena mengkritisi karya tersebut.

    Membedakan tingkat kesulitan dan kompleksitas proses berpikir
    Tingkat kesulitan dan proses berpikir merupakan dua hal yang berbeda. Soal yang mengukur ingatan dapat mudah dan dapat juga sulit, demikian pula soal yang mengukur berpikir tingkat tinggi juga dapat mudah dan dapat sulit, tergantung pada kompleksitas pertanyaan atau tugas.   Contohnya dapat dilihat pada tabel berikut:

    Proses

    Mudah

    Sulit
    Berpikir
    Mengingat
    Siapakah nama presiden pertama negara Republik Indonesia?
    Siapakah presiden Republik Indonesia yang membuka konferensi Non-Blok ke-16?
    Menerapkan
    Andi berlari mengelilingi lapangan berbentuk persegi panjang dengan ukuran  28 𝑚 × 15 . Berapakah total jarak yang telah ditempuh Andi setelah mengelilingi lapangan tersebut sebanyak 2 kali?
    Pak Bagas ingin memagari kebun miliknya yang berbentuk persegi panjang berukuran
    12,93 𝑚×9,18 . Biaya pemagaran adalah Rp15.750,00 per meter. Apabila Pak Bagas mendapatkan diskon sebesar
    39% atas biaya pemagaran tersebut, berapakah nominal uang yang harus dikeluarkan
    oleh Pak Bagas?
    Berpikir
    Mengapa Sari
    Bagaimana keputusan yang akan diambil oleh Sinta?
    Apa yang mendasari keputusannya? Tunjukkan
    bagian teks yang mendukung hal tersebut!
    tingkat tinggi
    meminjamkan buku

    kepada Dini meskipun dia
    mengetahui bahwa Dini lah yang menyebabkan dia
    celaka?


    Selengkapnya silahkan DOWNLOAD File Lengkapnya melalui link dibawah

     
    Advertisement

    Terimaksih Anda sudah berkunjung di Webblog kami, semoga "Panduan Penulisan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) Untuk Guru" bermanfaat dan bisa menjadi refrensi Anda. Untuk pemesanan BBM Mod Tema special, Desain maupun pembuatan Logo dan lain-lain Anda dapat menghubungi kami melalui Contact yang tersedia. Jangan lupa Share dan tinggalkan jejak di Komentar!
    Original Post by www.modifimu.com ©2020

    TAG: BBM MOD 2020, BBM MOD TEMA SEPAK BOLA, BBM MOD TEMA LINE, BBM MOD TEMA CARTOON, BBM MOD TEMA ANIME, BBM MOD AREMA, BBM MOD, PERSIJA, BBM MOD FREE STIKER 2020, BBM MOD TRANSPARAN, BBM MOD APK, BBM MOD PERSIB BANDUNG, BBM MOD REAL MADRID, BBM MOD, SRIWIJAYA FC, BBM MOD BARCELONA, LIME APK, ANDROID MOD, CARA ROOT ANDROID, CARA MEMBUAT LOGO, CARA MEMBUAT BBM MOD, WHATSAPP PLUS 2018, PERANG GAMBAR, GAMBAR KATA, GAMBAR GERAK LUCU, DP BBM, JASA EDIT FOTO ONLINE MURAH

    Download Launcher Modifimu.com, Mempermudah Anda untuk mengakses informasi dan menikmati layanan seputar aplikasi Android terbaru. Unduh Modifimu.com V2.4 (2MB)


    0 Comment to "Panduan Penulisan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) Untuk Guru"

    Post a comment

     jasa edit foto murah